Selasa, 14 Januari 2014

TUGAS EBOOK SOFTSKILL DESAIN PEMODELAN GRAFIK

Kelompok 8 Kelas 3IA05
Andri Dwi Saputra
Andrie Syahriandy
Annisa Tri Handayani
Dedi
M. Eko Darwanto
Nur Aisyah Setyorini


Ebook Halaman 21-25


Kemampuan Pemodelan Sistem

Kemampuan pemodelan sistem sangat menjanjikan. Gambar 21 dan gambar 22 menunjukkan objek yang dihasilkan oleh sistem. Objek yang ditunjukkan pada gambar 21 adalah objek berbentuk kepala yang dihasilkan dari objek dasar berbentuk bola. Objek dibuat dalam waktu kurang dari satu jam oleh tester yang belum berpengalaman menggunakan sistem. Alat inputan yang digunakan adalah mouse dan keyboard standar. Untuk mengulang membuat objek yang serupa, dapat dilakukan dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Objek yang ditunjukkan pada gambar 22 adalah objek berbentuk relief dinding. Objek ini dihasilkan dari bentuk dasar berupa bidang segiempat. Relief dibentuk dengan menggunakan beberapa tool dengan berbagai bentuk, yang dihasilkan dari gambar. Objek dapat dibuat dalam waktu sekitar 10 menit.




Gambar  22. Objek berbentuk kepala yang dihasilkan oleh sistem. Objek dihasilkan dari objek dasar berbentuk bola











Gambar 23. Objek berbentuk relief pada dinding yang dihasilkan dari bentuk dasar berbentuk bidang segiempat.







Kecepatan Deformasi

Kecepatan deformasi yang dihasilkan sangat mendukung proses pemodelan yang real-time. Kecepatan deformasi diukur dalam kondisi jumlah vertex objek yang berada dalam ROI berbeda-beda. Tabel 1 menunjukkan kecepatan deformasi berdasarkan jumlah vertex yang berada di dalam ROI. Kecepatan deformasi diukur pada lingkungan notebook dengan sistem operasi Microsoft Windows XP, proccessor Pentium DualCore 2.0GHz, RAM 1GB, dan GPU Intel GMA4500 dengan memori share.

Tabel 1. Kecepatan proses deformasi berdasarkan jumlah vertex objek yang berada di dalam ROI.



Dengan kecepatan yang didapatkan, seperti yang terlihat pada tabel 1, proses sculpting menjadi bisa dilakukan secara benar-benar real-time. Pada jumlah vertex lebih kecil dari 5000, kecepatan deformasi bahkan mecapai lebih besar dari 60 kali/detik, yang merupakan frekuensi standar refresh rate monitor LCD. Pada jumlah vertex sebesar 50000, kecepatan turun sampai mencapai 4.5 kali/detik. 




BAB III
TOOLS

Ultra Fractal adalah cara mudah dan fleksibel untuk membuat seni fraktal. Ketika siap untuk lebih banyak daya, Ultra Fractal adalah paket profesional mengagumkan yang mendukung animasi, fraktal sewenang-wenang dalam dan resolusi sangat tinggi.
Gambar Fractal diciptakan dengan berulang kali menghitung rumus fraktal. Meskipun formula ini adalah murni matematika, gambar-gambar yang dihasilkan seringkali sangat indah dan kompleks.
Ultra Fractal pergi jauh ke arah menyembunyikan hal-hal matematika. Sebaliknya, berfokus pada fraktal sendiri, cara mereka digabungkan dan bagaimana mereka berwarna. Hal ini memungkinkan untuk mengubah fraktal menjadi karya seni sejati.
Sangat mudah dan menyenangkan untuk mulai menggunakan Ultra Fractal dengan tutorial built-in. Dimulai dengan dasar-dasar, akan segera belajar cara membuat fraktal sendiri, mengubah warna, menambahkan lapisan, menggunakan masker dan bahkan membuat animasi.
Dalam Ultra Fractal 5, formula sekarang dapat menggunakan plug-in yang memungkinkan dengan mudah mencampur dan fitur pertandingan. Dengan menggabungkan berbagai plug-in, kemungkinan benar-benar menjadi tak terbatas. Untuk informasi lebih lanjut, lihat Plug-in dalam file bantuan Ultra Fractal.



BAB IV
CONTOH PENGGUNAAN TOOLS

A.  Contoh Membuat Citra Fraktal
Pertama kali membuka Ultra Fractal, default Mandelbrot set ditampilkan. Karena akan membuat fraktal baru dari awal, tutuplah fraktal tersebut. Pada menu bar klik File - Close untuk menutup jendela fraktal.




Gambar 24. Tampilan awal Ultra Fractal.

Sekarang, ruang kerja kosong kecuali deretan Tool Windows pada sisi kanan layar. Tool Windows tersebut digunakan untuk memasukkan dan mengedit informasi yang menciptakan gambar fraktal pada layar . Tool Windows adalah pusat informasi program dan itu akan tetap terbuka  setiap saat.
Langkah pertama dalam menciptakan fraktal baru adalah memilih Fractal Formula yang menentukan struktur fraktal yang akan bekerja.
Untuk membuka jendela fraktal baru, pada menu bar klik File - New - Fractal.
Ini akan membuka “Select Fractal Formula” Browser. Panel kiri menunjukkan tiga folder (Compatibility, My Formulas dan Public) dan sebuah file bernama "Standard.ufm". Ketika klik Standard.ufm, konten tersebut berisi daftar formula-formula, yang muncul di sisi kanan jendela browser. Masing-masing formula muncul sebagai thumbnail yang menunjukkan tampilan gambar yang akan menghasilkan formula.



                                                     Gambar 25. File - New - Fractal.

Gambar 26. Jendela Browser.

Pilihlah salah satu gambarnya, pada contoh ini gambar yang dipilih yaitu Slope (Newton). Nah, terlihat di jendela bawahnya terdapat 2 jendela yaitu di sisi kiri jendela merupakan suatu algoritma dari gambar yang dipilih, sedangkan di sisi kanan jendela tampak gambar yang dipilih. Lalu klik Open.
Mengubah Formula Parameter
Lihatlah Tool Windows pada sisi kanan layar dan klik pada tab Formula yang paling atas (Layer Properties) window. Bawah formula nama di atas (dalam hal ini, Newton) akan melihat  pengaturan (Drawing Method, Periodicity Checking, Additional Precision dan Maximum Iterations) yang muncul untuk setiap fraktal formula. Khusus parameter-parameter untuk fakta formula ini tercantum di bawah garis pemisah (dalam hal ini : Exponent (Re), Exponent (Im), Root (Re), Root (Im) dan Bailout value).


Sabtu, 30 November 2013

Digital Sculptin



Digital Sculpting ini menggunakan software Blender , Blender ini digunakan untuk membuat animasi-animasi 3D , disini saya akan membuat sebuah cangkir di dalam Blender.

Langkah pertama kita membuka aplikasi blendernya dan langsung membuat didalamnya , tampilan awal pada aplikasi ini , seperti gambar dibawah ini ;

Kemudian untuk membuat awalnya kita masukkan cylinder , ini ada didalam Add – Mesh – dan pilih Cylinder , disini kita ganti ukuran yang awalnya 32 menjadi 17 di dalam Vertices

Kemudian kita klik object mode dan kita pilih edit mode , lalu kita ke pengaturan dan kita pilih solidify, disini untuk memberikan ketebalan cap atasnya , kita ganti menjadi 0,1. Selanjutnya kita pilih view untuk mengubah tampilannya, kita pilih front. Tampilannya seperti dibawah ini ;

Selanjutnya kita membuat jarak untuk tempat gagang cangkirnya , caranya ctrl+r dan kita mainkan rool yang ada dimouse, lalu klik sembarang , untuk membuat gagang cangkirnya kita klik 2 untuk tempatnya dan lalu pilih tombol E untuk menariknya , bisa dilihat seperti gambar dibawah ini ;
Kemudian kita pencet ctrl+r untuk mengubah siku gagang ata +45 dan bawah -45 , lalu shift+klik kanan untuk menutup gagangnya dan lalu kita masuk ke pengaturan ke subdivision suface untuk membuat cupnya dan ganti menjadi 3 semua , hasilnya seperti dibawah ini :


Ini adalah digital scuplting pada sebuah cangkir .

Digital Sculpting ini menggunakan software Blender , Blender ini digunakan untuk membuat animasi-animasi 3D , disini saya akan membuat sebuah cangkir di dalam Blender.
Add caption
Langkah pertama kita membuka aplikasi blendernya dan langsung membuat didalamnya , tampilan awal pada aplikasi ini , seperti gambar dibawah ini ;
Kemudian untuk membuat awalnya kita masukkan cylinder , ini ada didalam Add – Mesh – dan pilih Cylinder , disini kita ganti ukuran yang awalnya 32 menjadi 17 di dalam Vertices
Kemudian kita klik object mode dan kita pilih edit mode , lalu kita ke pengaturan dan kita pilih solidify, disini untuk memberikan ketebalan cap atasnya , kita ganti menjadi 0,1. Selanjutnya kita pilih view untuk mengubah tampilannya, kita pilih front. Tampilannya seperti dibawah ini ;
Selanjutnya kita membuat jarak untuk tempat gagang cangkirnya , caranya ctrl+r dan kita mainkan rool yang ada dimouse, lalu klik sembarang , untuk membuat gagang cangkirnya kita klik 2 untuk tempatnya dan lalu pilih tombol E untuk menariknya , bisa dilihat seperti gambar dibawah ini ;
Kemudian kita pencet ctrl+r untuk mengubah siku gagang ata +45 dan bawah -45 , lalu shift+klik kanan untuk menutup gagangnya dan lalu kita masuk ke pengaturan ke subdivision suface untuk membuat cupnya dan ganti menjadi 3 semua , hasilnya seperti dibawah ini :

Ini adalah digital scuplting pada sebuah cangkir .


Minggu, 10 November 2013

Digital Sculpting 2

Digital Sculpting
Digital sculpting, Virtual sculpting atau sering disebut computer sculpting merupakan suatu pemodelan geometrik. Bill dan Lodha (Bill and Lodha, 1994) memberikan definisi  virtual sculpting sebagai pemodelan geometrik yang interaktif dimana tujuan dan cara-cara sculpture tradisional diemulasikan. Tujuan yang dimaksud adalah mendesain objek 3D yang  free-form. Sedangkan cara-cara yang dimaksud adalah manipulasi secara langsung terhadap bahan dengan menggunakan tangan atau manipulasi secara tidak langsung dengan menggunakan peralatan sculpting (sculpting tools). Pada  Virtual sculpting, ada beberapa hal yang harus dipenuhi. Yang pertama, representasi objek yang digunakan haruslah memiliki karakteristik yang semirip-miripnya dengan bahan-bahan pada kehidupan nyata, dan bisa membentuk bentuk yang sebebas-bebasnya. Kedua, representasi objek yang digunakan memungkinkan objek dapat dirender dengan cepat, agar tidak menjadi hambatan dalam proses sculpting yang real-time. Ketiga, desain dan mekanisme kerja  virtual sculpting tools (untuk selanjutnya,  virtual sculpting  tools akan disebut dengan  tool) harus seintuitif mungkin dan dapat digunakan untukmelakukan manipulasi bentuk serumit mungkin. Keempat, komputasi yang dilakukan untuk proses  sculpting tidak terlalu komplek, sehingga proses sculpting bisa dilakukan secara real-time. Beberapa sistem  virtual sculpting telah dikembangkan sebelumnya. Sederberg dan Parry mengenalkan  Free-Form Deformation (FFD) untuk melakukan solid modeling (Sederberg and Parry, 1986). Pada FFD, penggunaan  tool sulit diterapkan karena manipulasi objeknya bersifat tidak langsung. Hsu, Huges, dan Kaufman mengenalkan  Direct Manipulation Free-Form Deformation (DMFFD), yang merupakan pengembangan dari FFD (Hsu, Huges, dan Kaufman, 1992). Pada DMFFD, penerapan  tool menjadi lebih mudah. Hsu menggunakan  tool sederhana untuk melakukan operasi pushing dan pulling pada vertex-vertex yang dipilih. Hilton dan Egbert (Hilton dan Egbert, 1994) mengenalkan tool berbasis vector field. Collision detection antara  tool dan objek ditentukan dengan melihat apakah titik-titik objek berada didalam wilayah  tool. Disini bentuk-bentuk  tool yang dapat diterapkan terbatas pada bentuk-bentuk sederhana. Bill dan Lodha (Bill and Lodha, 1994) pada sistem yang dinamai SAM-IAM, memanfaatkan persamaan superkudratik untuk mendefinisikan  tool, yang digunakan untuk melakukan pemodelan pada polygon mesh.
Sculpting Technology
Suatu sistem  virtual sculpting telah dibangun dengan menggunakan metode yang diajukan. Dengan model  tool yang diajukan,  tool dapat dibentuk dalam bentuk-bentuk yang rumit dan dapat dengan mudah dibuat dari gambar sketsa. Kemampuan pemodelan sistem sangat baik. Pemodelan dapat dilakukan secara intuitif dan real-time. Dengan menggunakan sistem yang dibangun, pengguna yang belum berpengalaman dapat menciptakan model yang cukup rumit dalam waktu yang cukup singkat. Kecepatan deformasi yang dihasilkan oleh metode yang diajukan sangat baik. Kecepatan yang dihasilkan memungkinkan pengguna dapat melakukan pemodelan secara  real-time dengan benar-benar nyaman.

Sumber : http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-15742-Paper-489023.pdf
              


Minggu, 20 Oktober 2013

Digital Sculpting

PENDAHULUAN

sebelum menjelaskan sedikit isi paper ini , terlebih dahulu saya ingin menjelaskan apa yang dimaksud dengan Digital Sculpting.

Digital sculpting, juga dikenal sebagai Modeling Sculpt atau Sculpting 3D, adalah penggunaan perangkat lunak yang menawarkan alat untuk mendorong, menarik atau memanipulasi objek digital seolah-olah itu terbuat dari bahan kehidupan nyata seperti tanah liat, patung.

Didalam Digital Sculpting ini ada 2 penjelasan diantaranya : Sculpting Technology dan Uses.

Sculpting Technology Geometri yang digunakan dalam program digital sculpting untuk mewakili model dapat bervariasi, masing-masing menawarkan keuntungan yang berbeda dan keterbatasan. Mayoritas alat digital sculpting di pasar menggunakan geometri berbasis mesh, di mana obyek diwakili oleh permukaan mesh saling poligon yang dapat mendorong dan menarik sekitar. Ini agak mirip dengan proses fisik mengalahkan pelat tembaga untuk memahat adegan lega. Digital sculpting lainnya menggunakan geometri berbasis voxel, di mana volume objek adalah elemen dasar. Bahan dapat ditambahkan dan dihapus, seperti mematung di tanah liat. Alat lainnya masihmenggunakan lebih dari satu representasi geometri dasar. Sebuah keuntungan dari program berbasis mesh bahwa mereka mendukung mematung di beberapa resolusi pada model tunggal. Area model yang halus rinci dapat memiliki poligon sangat kecil sementara daerah lain dapat memiliki poligon besar. Dalam banyak program berbasis mesh, mesh dapat diedit pada berbagai tingkat detail, dan perubahan pada satu tingkat akan merambat ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih rendah dari model yang detail. Keterbatasan mematung berbasis mesh topologi tetap mesh, susunan spesifik dari poligon dapat membatasi cara di mana rinci dapat ditambahkan atau dimanipulasi.

Sebuah keuntungan dari mematung berbasis voxel adalah bahwa voxel memungkinkan kebebasan penuh atas bentuk. Topologi model dapat diubah terus menerus selama proses patung sebagai bahan yang ditambahkan dan dikurangi, yang membebaskan pematung dari mempertimbangkan tata letak poligon di permukaan model. Voxel, bagaimanapun, adalah lebih terbatas dalam menangani berbagai tingkat detail. Tidak seperti pemodelan berbasis mesh, perubahan luas dibuat untuk voksel pada tingkat rendah detail benar-benar dapat merusak rincian halus. Interaksi dengan alat digital sculpting dapat bervariasi dari mouse komputer standar untuk tablet pena digital yang menyediakan sensitivitas tekanan, yang dapat menyediakan fungsionalitas tambahan untuk sebagian besar perangkat lunak mematung. Beberapa tools bahkan mendukung patung dengan perangkat input haptic.


Uses Digital sculpting masih merupakan metode yang sangat baru, tetapi telah menjadi sangat populer dalam beberapa tahun belakangan ini. Sculpting dapat memperkenalkan rincian untuk jerat yang lain akan sulit atau tidak mungkin untuk membuat menggunakan teknik pemodelan 3D tradisional. Hal ini membuat lebih baik untuk mencapai hasil photorealistic dan hyperrealistic. Sculpting terutama digunakan dalam model organik tinggi poli (penciptaan model 3D yang terutama terdiri dari kurva atau permukaan tidak teratur, sebagai lawan pemodelan permukaan yang keras). Hal ini dapat membuat jerat sumber untuk model permainan poli rendah yang digunakan dalam video game. Dalam hubungannya dengan pemodelan 3D lainnya dan teknik texturing dan pemetaan Pemindahan dan normal, itu sangat dapat meningkatkan penampilan jerat permainan sering ke titik photorealism. Beberapa program mematung seperti 3D-Coat, Zbrush, Mudbox dan menawarkan cara untuk mengintegrasikan alur kerja mereka dengan 3D modeling tradisional dan program rendering. Sebaliknya, aplikasi pemodelan 3D seperti 3ds Max dan Modo sekarang menggabungkan kemampuan mematung juga, meskipun ini biasanya kurang maju dibandingkan alat yang ditemukan dalam aplikasi mematung-spesifik.
Tinggi poli memahat juga banyak digunakan dalam CG karya seni untuk film, desain industri, seni, ilustrasi fotorealistik, dan untuk prototyping dalam pencetakan 3D.



sumber : - wikipedia.com
               - id.shavoong.com

Jumat, 23 November 2012

Rumah Adat Toraja (Tongkonan)



Rumah Adat Toraja (Tongkonan)
Rumah Adat Toraja atau yang biasa disebut dengan Tongkonan, kata tongkonan sendiri berasal dari kata tongkon yang bermakna menduduki atau tempat duduk. Dikatakan sebagai tempat duduk karena dahulu menjadi tempat berkupulnya bangsawan toraja yang duduk dalam tongkonan untuk berdiskusi. Rumah adat ini selain berfungsi sebagai tempat tinggal juga memiliki fungsi sosial budaya yang bertingkat-tingkat di masyarakat. Masyarakat Suku Toraja menganggap rumah tongkonan itu sebagai ibu, sedangkan alang sura (lumbung padi) dianggap sebagai bapak.
Rata-rata rumah orang Toraja menghadap ke arah utara, menghadap ke arah Puang Matua sebutan bagi orang Toraja kepada Tuhan YME dan untuk menghormati leluhur mereka dan dipercaya akan mendapatkan keberkahan di dunia.
Di daerah Tana Toraja pada umumnya merupakan tanah pegunungan batu alam dan kapur dengan ladang dan hutan yang masih luas, dilembahnya itu terdapat hamparan persawahan.
Rumah Tongkonan adalah rumah panggung yang dibangun atau didirikan dari kombinasi lembaran papan  dan batang kayu. Kalau dilihat, denahnya berbentuk persegi panjang mengikuti bentuk praktis dari material kayu. Material kayu dari kayu uru, yaitu sejenis kayu lokal yang berasal dari Sulawesi. Kayu uru banyak ditemui dihutan-hutan didaerah Toraja dan kualitas dari kayu uru cukup baik, kayu-kayu ini tidak perlu dipernis atau di pelistur, kayu dibiarkan asli .
Rumah Toraja atau Tongkonan ini dibagi menjadi 3 bagian:
1.       Kolong (Sulluk Banua)
2.       Ruangan rumah (Kale Banua)
3.       Atap (Ratiang Banua)

Pada bagian atap rumah Tongkonan, bentuknya melengkung seperti tanduk kerbau. Terdapat jendela kecil disisi timur dan barat pada bangunan, bertujuan sebagai tempat masuknya sinar matahari dan aliran angin.
Dalam pembangunan rumah adat Tongkonan ada hal-hal yang harus diperhatikan dan tidak boleh untuk di langgar, yaitu:
1.       Rumah diharuskan menghadap ke utara, letak pintu di bagian depan rumah, dengan keyakinan langit dan bumi itu merupakan satu kesatuan, dan bumi dibagi kedalam 4 penjuru mata angin, yaitu:
1.  Utara disebut Ulunna langi, yang paling mulia di mana Puang Matua berada (keyakinan masyarakat Toraja).
2.     Timur disebut Matallo, tempat matahari terbit, tempat asalnya kebahagiaan atau kehidupan.
3.      Barat disebut Matampu, tempat metahari terbenam, lawan dari kebahagiaan atau kehidupan, yaitu kesusahan atau kematian.
4.   Selatan disebut Pollo’na langi, sebagai lawan bagian yang mulia, tempat melepas segala sesuatu yang tidak baik atau angkara murka.
2.      Pembangunan rumah tradisional  Tongkonan biasanya dilakukan secara gotong royong. Rumah Adat Tongkonan dibedakan menjadi 4 macam:

  1.       Tongkonan Layuk, rumah adat tempat membuat peraturan dan penyebaran aturan-aturan.
  2.     Tongkonan Pakamberan atau Pakaindoran, rumah adat tempat dilaksanakannya aturan-aturan. Biasanya dalam satu daerah terdapat beberapa tongkonan, yang semuanya bertanggung jawab pada Tongkonan Layuk.
3.  Tongkonan Batu A’riri, rumah adat yang tidak mempunyai peranan dan fungsi adat, hanya sebagai tempat pusat pertalian keluarga.
4.    Barung-barung, merupakan rumah pribadi. Setelah beberapa turunan (diwariskan), kemudian disebut Tongkonan Batu A’riri.


Kenapa harus tanduk Kerbau? bagi orang Toraja, kerbau selain sebagai hewan ternak juga menjadi lambang kemakmuran dan status. Oleh sebab itu kenapa tanduk atau tengkorak kepala kerbau di pajang dan disimpan di bagian rumah, karena sebagai tanda bawasannya keberhasilan  si pemilik rumah mengadakan sebuah upacara atau pesta.


Pada dasarnya, Suku Toraja yang ada sekarang ini bukanlah suku asli, tetapi merupakan suku pendatang. Menurut mitos atau kepercayaan yang sampai saat ini masih dipegang teguh, suku Toraja berasal dari khayangan yang turun pada sebuah pulau Lebukan.
Kemudian, secara bergelombang dengan menggunakan perahu mereka datang ke Sulawesi bagian Selatan. Di pulau ini mereka berdiam disekitar danau Tempe dimana mereka mendirikan perkampungan. Perkampungan inilah yang makin lama berkembang menjadi perkampungan Bugis. Diantara orang-orang yang mendiami perkampungan ini ada seorang yang meninggalkan perkampungan dan pergi ke Utara lalu menetap di gunung Kandora dan di daerah Enrekang. Orang inilah yang dianggap merupakan nenek moyang suku Toraja.
Sistim pemerintahan yang dikenal di Toraja waktu dulu adalah sistim federasi. Daerah Toraja dibagi menjadi 5 daerah yang terdiri atas :
1.       Makale
2.       Sangala
3.       Rantepao
4.       Mengkendek
5.       Toraja Barat.
Daerah-daerah Makale, Sangala dan Mengkendek dipimpin masing-masing oleh seorang bangsawan yang bernama PUANG. Daerah Rantepao dipimpin oleh bangsawan yang bernama PARENGI, sedangkan daerah Toraja Barat dipimpin oleh bangsawan bernama MA'DIKA.
 Ada semacam perbedaan yang sangat menyolok antara daerah yang dipimpin oleh PUANG dengan daerah yg dipimpin oleh PARENGI dan MA'DIKA didalam menentukan lapisan sosial yang terdapat didalam masyarakat. Pada daerah yang dipimpin oleh PUANG masyarakat biasa tidak akan dapat menjadi PUANG, sedangkan pada daerah Rantepao dan Toraja Barat masyarakat biasa dapat saja mencapai kedudukan PARENGI atau MA'DIKA kalau dia pandai. Hal inilah mungkin yang menyebabkan daerah Rantepao bisa berkembang lebih cepat dibandingkan perkembangan yang terjadi di Makale.
 Kepercayaan, kepercayaan di Tana Toraja dikenal pembagian kasta seperti yang terdapat didalam Agama Hindu-Bali. Karena itulah sebabnya kepercayaan asli suku Toraja yaitu ALUKTA ditetapkan pemerintah menjadi salah satu sekte dalam agama Hindu-Bali. Kelas atau kasta ini dibagi menjadi  4:
1.       Kasta Tana' Bulaan
2.       Kasta Tana' Bassi
3.       Kasta Tana’Karurung
4.       Kasta Tana' Kua-kua

Adat Istiadat, adat istiadat diToraja sangat dikenal dengan upacara adatnya. Didalam menjalankan upacara dikenal 2 macam pembagian yaitu:


Upacara kedukaan disebut Rambu Solok
Upacara ini meiiputi 7 tahapan, yaitu :
1.       Rapasan
2.       Barata Kendek
3.       Todi Balang
4.       Todi Rondon
5.       Todi Sangoloi
6.       Di Silli
7.       Todi Tanaan


Upacara kegembiraan disebut Rambu Tuka
Upacara ini juga meliputi 7 tahapan, yaitu:
1.       Tananan Bua’
2.       Tokonan Tedong
3.        Batemanurun
4.       Surasan Tallang
5.       Remesan Para
6.       Tangkean Suru
7.       Kapuran Pangugan

Adat istiadat yang ada sejak dulu tetap dijalankan sekarang, karena mayoritas penduduk suku Toraja masih memegang teguh kepercayaan nenek moyangnya (60 %). Hal ini terutama pada adat yang berpokok pangkal dari upacara adat Rambu Solok dan Rambu Tuka. Dua pokok inilah yang merangkaikan upacara-upacara adat yang masih dilakukan dan cukup terkenal.

Perkembangan Rumah Adat Toraja atau Tongkonan
Rumah Adat Suku Toraja mengalami perkembangan terus menerus sampai kepada rumah yang dikenal sekarang ini. Perkembangan itu meliputi penggunaan ruangan, pemakaian bahan, bentuk, sampai cara membangun. Sampai pada keadaannya yang sekarang rumah adat suku Toraja berhenti dalam proses perkembangan. Walaupun mengalami perkembangan terus menerus, tetapi rumah adat Toraja atau Tongkonan tetap mempunyai ciri yang khas. Ciri ini terjadi karena pengaruh dari lingkungan hidup dan adat istiadat suku Toraja sendiri. Seperti halnya rumah adat suku-suku lain di Indonesia yang umumnya dibedakan kare­na bentuk atapnya, rumah adat Toraja inipun mempunyai bentuk atap yang khas. Memang mirip dengan rumah adat suku Batak, tetapi meskipun begitu rumah adat suku Toraja tetap memiliki ciri-ciri tersendiri.


Pada mulanya rumah yang didirikan masih berupa semacam pondok yang diberi nama Lantang Tolumio. Ini masih berupa atap yang disangga dangan dua tiang + dinding tebing.


Bentuk kedua dinamakan Pandoko Dena. Bentuk ini biasa disebut pondok pipit karena letak-nya yang diatas pohon. Pada prinsipnya rumah ini dibuat atas 4 pohon yang berdekatan dan berfungsi sebagai tiang. Hal pemindahan tempat ini mungkin disebabkan adanya gangguan binatang buas.


Perkembangan ketiga ialah ditandai dengan mulainya pemakaian tiang buatan. Bentuk ini memakai 2 tiang yang berupa pohon hidup dan 1 tiang buatan. Mungkin ini disebabkan oleh sukarnya mencari 4 buah pohon yang berdekatan. Bentuk ini disebut Re'neba Longtongapa.


Berikutnya adalah rumah panggung yang seluruhnya mempergunakan tiang buatan. Dibawahnya sering digunakan untuk menyimpan padi (paliku), ini bentuk pertama terjadinya lumbung.


Perkembangan ke-5 masih berupa rumah pangqung sederhana tetapi dengan tiang yang lain. Untuk keamanan hewan yang dikandangkan dikolong rumah itu. Tiang-tiang dibuat sedemikian rupa, sehingga cukup aman. Biasanya tiang itu tidak dipasang dalam posisi vertikal tetapi merupakan susunan batang yang disusun secara horisontal .


Lama sesudah itu terjadi perubahan yang banyak. Perubahan itu sudah meliputi atap, fungsi ruang dan bahan. Dalam periode ini tiang-tiang kembali dipasang vertikal tetapi dengan jumlah yang tertentu. Atap mulai memakai bambu dan bentuknya mulai berexpansi ke depan (menjorok). Tetapi garis teratas dari atap masih datar. Dinding yang dibuat dari papan mulai diukir begitu juga tiang penyangga. Bentuk ini dikenal dengan nama Banua Mellao Langi.


Berikutnya adalah rumah adat yang dinamakan Banua Bilolong Tedon. Perkembangan ini terdapat pada Lantai yang mengalami perobahan sesuai fungsinya.


 Pada periode ini hanya terjadi perkembangan pada lantai dan tangga yang berada di bagian depan.


·         Pada periode ini letak tangga pindah ke bawah serta perubahan permainan lantai
·       Banua Diposi merupakan nama yang dikenal untuk perkembangan kesembilan ini. Perubahan ini lebih untuk menyempurnakan fungsi lantai (ruang).
·   Berikutnya adalah perobahan lantai yang menjadi datar dan ruang hanya dibagi dua. Setelah periode ini perkembangan selanjutnya tidak lagi berdasarkan adat, tetapi lebih banyak karena persoalan kebutuhan akan ruang dan konstruksi. Begitu juga dalam penggunaan materi mulai dipakainya bahan produk mutakhir, seperti seng, sirap, paku, dan sebagainya. Jadi dapat disimpulkan bahwa perkembangan yang terakhir merupakan puncak perkembangan dari rumah adat Toraja.



Asal-usul
Menurut legenda, nenek moyang orang Toraja berasal dari Hindia Belakang (Siam). Mereka berimigrasi ke daerah selatan untuk mencari daerah baru. Mereka menggunakan kapal yang menyerupai rumah adat orang Toraja sekarang ini.
Asal-usul tentang pengertian Toraja, terbagi 2 versi. Versi pertama, mengatakan bahwa kata Toraja berasal dari kata “to” yang artinya orang dan kata “raja” yang artinya raja. Jadi Toraja artinya orang-orang keturunan raja. Versi lain mengatakan bahwa Toraja berasal dari dua kata yaitu “to” yang artinya orang dan “ri aja” (bahasa Bugis) yang artinya orang-orang gunung. Jadi Toraja artinya orang-orang gunung. Kedua versi tersebut memiliki alasan yang berbeda-beda dan masuk akal.

Sejarah

  • Tahun 1926 Tana Toraja sebagai Onder Afdeeling Makale-Rantepao dibawah Self bestur Luwu.
  • Tahun 1946 Tana Toraja terpisah menjadi Swaraja yang berdiri berdasarkan Besluit Lanschap Nomor 105 tanggal 8 Oktober 1946.
  • Tahun 1957 berubah menjadi Kabupaten Dati II Tana Toraja berdasarkan UU Darurat Nomor 3 tahun 1957.UU Nomor 22 tahun 1999 Kabupaten Dati II Tana Toraja berubah menjadi kabupaten Tana Toraja.
Ciri Khas Suku Toraja
Salah satu ciri khas suku Toraja yaitu tempat pemakamannya. Rante, yaitu tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100 buah menhir atau megalit, yang dalam bahasa Toraja disebut Simbuang batu. 102 bilah batu menhir yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang, dan 54 buah ukuran kecil. Ukuran menhir ini mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut hanyalah faktor perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan atau pengambilan batu.

Kesenian dan Kebudayaan

Adat Perkawinan Daerah Sulawesi Selatan:
  •       MelamarDalam melamar ada beberapa tahapan yang harus dijalankan, antara lain dengan cara pendekatan oleh pihak pria kepada pihak wanita, seperti menanyakan apa sang gadis masih belum ada ikatan dengan pria lain dan sebagainya. Bilamana sang gadis masih belum ada ikatan, pihak keluarga pria mengirim beberapa utusan yang terdiri dari keluarga terdekat sang pria. Tugas mereka adalah untuk melamar sang gadis secara resmi yang disebut massuro. Bila lamaran diterima oleh pihak wanita, maka kedua pihak lalu berembuk untuk menetapkan besarnya mas kawin atau sompa, juga biaya perkawinan dan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan.
  •             Persiapan dan Upacara PernikahanBeberapa hari menjelang pernikahan, keluarga mengadakan mappaci, yaitu malam berbedak, bersolek, dan memerahi kuku atau berinai.Pada hari yang telah ditetapkan, kedua mempelai melakukan akad nikah menurut agama Islam yang dilakukan oleh penghulu, kemudian kedua mempelai melakukan upacara adat, yaitu mempelai pria menyentuh salah satu anggota badan mempelai wanita, seperti ibu jari atau tengkuk. Itu berarti bahwa mempelai wanita telah syah menjadi mempelai pria.Setelah itu, keluarga mempersandingkan kedua pengantin di pelaminan, disaksikan oleh para tamu. Seluruh upacara perkawinan yang diramaikan dengan pesta ini berlangsung di rumah mempelai wanita dan upacara ini dinamakan marola.
  •            Pakaian PengantinPakaian pengantin pria dari Bugis-Makasar berupa baju jas model tertutup yang disebut baju bella dada, kain sarung songket yang disebut rope. Di pinggang bagian depan terselip sebuah keris pasang timpo (keris yang terbungkus emas separuhnya) atau keris tataroppeng (keris yang terbungkus emas seluruhnya), sedangkan di kepala terdapat hiasan kepala yang disebut sigara.Pengantin wanita memakai baju bodo, kain sarung songket atau rope, dan selendang di bahu. Sanggul pengantin wanita berhiaskan kembang goyang dan perhiasan lainnya berupa kalung bersusun, sepasang bassa atau gelang panjang bersusun, dan anting-anting.
Lagu-Lagu khas Toraja:

  • Siulu’
  •  Lembang Sura’
  • Marendeng Marampa’
  • Siulu’ Umba Muola
  • Passukaranku
  • Katuoan Mala’bi’
  • Susi Angin Mamiri
  • Kelalambunmi Allo
  • Tontong Kukilalai
Obyek Wisata di Tana Toraja

  •       KE’TE’ KESU’Ke’te’ kesu’ adalah obyek wisata yang sudah populer diantara turis domestik dan asing sejak tahun 1979 terletak dikampung Bonoran yang berjarak 4 km dari kota Rantepao, telah ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya dengan nomor registrasi 290 yang perlu dilestarikan/dilindungi. Obyek wisata ini sangat menarik, karena memilki suatu kompleks perumahan adat Toraja yang masih asli, yang terdiri dari beberapa Tongkonan, lengkap dengan Alang Sura’ (lumpung padinya).Tongkonan tersebut dari leluhur Puang ri Kesu’ difungsikan sebagai tempat bermustawarah, mengelola, menetapkan, dan melaksanakan aturan-aturan adat, baik aluk maupun pemali yang digunakan sebagai aturan hidup dan bermasyarakat di daerah Kesu’.

  •       LONDALonda adalah salah satu dari sekian banyaknya obyek wisata yang menarik di Tana Toraja, yang letaknya di desa Tikunna Malenong. Londa merupakan sebuah kuburan alam berupa gua-gua batu di kaki gunung.Di dalam gua itulah diletakkan jenazah-jenazah dalam sebuah peti yang disebut erong atau duni.erong adalah semacam peti mati yang terbuat kayu yang keras dan kuat. Bagian luar erong ditatah dengan ukiran yang indah.Sebelum memasuki gua-gua alam, sedikit di atas gua terdapat jajaran patung yang disebut tau-tau yang dibuat dari kayu nangka agar dapat bertahan lama. Tau-tau ini merupakan duplikat dari jenazah yang dimakamkan. Dengan menghitung berapa jumlah tau-tau yang ada, dapat diketahui berapa jenazah yang dimakamkan dalam liang.Untuk membedakan erong mana yang telah tua, dapat dilihat dari warnanya. Erong yang berwarna hitam adalah erong yang diletakkan ketika mereka masih menganut animisme dan erong yang berwarna kecoklatan adalah erong yang dimasukkan setelah masuknya agama Kristen. Jadi umurnya setua erong yang berwarna hitam. Tapi ada erong yang telah hancur sehingga kerangka-kerangka manusia berserakan di dalam gua itu.

  •             BATU TOMANGABerlokasi di daerah Sesean yang beriklim dingin, sekitar 1300 m di atas permukaan laut. Di daerah ini terdapat 56 menhir batu dalam sebuah lingkaran dengan lima pohon kayu ditengahnya. Kebanyakan dari batu menhir itu berukuran dua sampai tiga m tingginya. Pemandangan yang sangat mempesona di atas rantepao dan lembah disekitarnya, dapat dilihat dari tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi.

Potensi Alam Toraja
Lampako Mampie adalah sebuah taman suaka margasatwa yang berada di Pulau Sulawesi dengan luas hampir 2000 ha. Suaka margasatwa ini tepatnya berada di bagian barat Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi pada kabupaten Polewali Mamasa. Kondisi lapangan dari taman suka margasatwa tersebut terdiri atas daerah wet land yang terdiri dari daerah berawa-rawa dengan secondary forest seluas 300 ha swamp forest dan beberapa daerah isolasi mangrove. Daerah suka margasatwa ini merupakan daerah yang sangat penting bagi tumbuhan dan hewan. Hewan utamanya adalah burung Mandar Sulawesi atau Ballidae atau Celebes Rails (Aramidopsis plateni) yang merupakan burung endemis yang hidup pada kawasan tersebut. Disamping itu, kawasan ini juga merupakan daerah untuk berkembang biak beberapa hewan lainnya, bahkan menjadi tempat persinggahan burung-burung yang bermigrasi.
Dengan melihat dari berbagai pengertian ekowisata, potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut, pengelolaan kawasan suaka yang mulai ditangani daerah dan keinginan masyarakat lokal untuk dapat membangun sebuah kawasan yang berasaskan lingkungan hidup, sehingga timbulah keinginan masyarakat daerah tersebut untuk dapat mengelola langsung kawasan suaka ini dengan tetap memperhatikan alam, disamping mereka juga mendapatkan insentif secara ekonomis untuk kelangsungan anak.

Kesimpulan
Sebenarnya Indonesia memiliki ragam kebudayaan dan suku-suku didalamnya, tetapi banyak masyarakat yang tidak mengenal kebudayaan apa saja yang ada dinegerinya. Salah satu contohnya adalah Toraja, suku yang berdiam di provinsi Sulawesi Selatan ini memiliki banyak kebudayaan-kebudayaan yang unik. Dari mulai suku-suku, bahasa, adat perkawinan, upacara adat kematian, makanan khas, dan objek wisata yang beragam dan unik.